Binongko adalah Pulau Nusakambangan di Wakatobi
Oleh: Juhlim
Nusakambangan
menjadi nama yang seram dan legendaris bagi banyak orang di Indonesia. Di pulau
inilah penjahat kelas kakap di penjarakan. Kini nama Pulau Nusakambangan
semakin mendunia, seiring dengan eksekusi mati para gembong narkoba
internasional.
Begitu
seramkah Pulau Binongko? Pasti saudara-saudara berpikir dan akan bertanya,
kenapa Binongko disamakan dengan Pulau Nusakambangan. Sebenarnya penulis
sendiri juga berpikir demikian, namun begitulah gambaran yang pantas di
sodorkan untuk pulau yang paling ujung di Wakatobi itu. Bukannya penulis
menjelekan pulau yang menjadi tanah kelahirannya, tetapi dengan maksud agar
membakar semangat dan membuka pola pikir kita dan mencari penyelesaiannya sebenarnya
apa yang salah dan yang kurang di pulau yang kita cintai itu.
Semenjak
Kabupaten Wakatobi melepaskan diri dari cengkeraman penguasa Buton, kini
Wakatobi menjadi daerah dengan potensi pariwisata yang indah di Sulawesi
Tenggara. Keindahan panorama bawah lautnya menjadi tersohor di Indonesia bahkan
di dunia sekalipun tidak asing dengan nama Wakatobi. Bahkan, di mata dunia
Wakatobi di juluki sebagai pusat segitiga karang dunia. Kita sebagai masyarakat
yang mendiami kepulauan Wakatobi, tidak
asing dan pasti akan mendengar julukan “Surga Nyata
di Bawah Laut”. Coba kita banyangkan pantaskah Wakatobi dengan julukan itu.
Katanya surga, tapi realiata yang
dilapangan begitu jauh dari kata surga itu sendiri.
Begitu banyak permasalahan sosial dan
pemeritah hanya berdiam diri tidak mampu menyelesaikan permalahan itu, salah
satu yang dialami di Pulau Binongko. Binongkolah, pulau yang paling lambat
proses pembangunanya diantara ketiga pulau lainnya. Kalau dipikir bukankah
Binongko termasuk pulau yang berada di Kabupaten Wakatobi yang terkenal itu,
tapi mengapa pembangunan infrastruktur begitu lambat disana jika di bangdingkan
dengan Pulau Wangi-Wangi, Kaledupa dan Tomia. Apakah Binongko tidak mempunyai
potensi yang bisa di kembangkan, sehingga menunjang APBD? Apakah Binongko,
menjadi tempat pembuangan para nara pidana? Dan, apakah masyarakat Binongko
tidak mempunyai SDM sehingga tidak mampu mengolah potensi SDA dan tidak mampu
bersaing dengan masyarakat lain. Kalau kita melihat dari sudut pandang
permasalahan, pasti kita akan menemukan begitu banyak permasalahan di sana.
Bukannya
Binongko tidak mempunyai potensi SDA. Disana sebenarnya banyak potensi yang
bisa di kembangkan, baik itu sumber daya
alam dan kebudayaan salah satunnya adalah pandai besi. Hanya saja pemerintah
Wakatobi tidak pernah melihat potensi itu. Jika, pemerintah Wakatobi
menyediakan dan memberikan fasilitas berupa perusahaan daerah agar pengerajin
besi tadi mampu memasarkan hasil produksinya di tempat lain, hal ini akan
menunjang perekonomian masyarakat Binongko.
Disisi
lain, masyarakat Binongko tidak mempunyai sumber daya manusia yang handal,
sehingga potensi SDA-nya tidak mampu diolah. Mengapa harus SDA yang diutamakan?
Karena, kalau kita melihat di negara maju pasti fakor utamanya adalah memiliki
sumber daya manusia yang baik dan kreatif. Sebenarnya, banyak para pemikir dari
Binongko yang kini telah berhasil dan sukses di daerah lain. Hanya saja mereka
lupa dengan tanah kelahirannya. Percuma saja mempunya ilmu tapi tidak
bermanfaat untuk masyarakat di Binongko. Mereka hanya memikirkan nasib
keluarganya saja. Ada yang menjadi anggota legislatif namun belum ada sesuatu
yang mereka berikan untuk masyarakat. Mereka hanya menjadi perpanjangan tangan
kapitalis dan apatis dengan permasalahan di Binongko dan berpura-pura
seolah-olah tidak ada masalah. Apalagi di tambah dengan generasi muda yang
semakin apatis dan tidak mau tahu jika ditanya dengan permalahan di Binongko.
Sifat
ego yang masih kental di kalangan masarakat. Jika saja, masyarakat Binongko
menyadari kalau Binongko itu berbeda, ada Cia-Cia dan Kaumbeda dan hanya bisa
besar kalau masyarakat Binongko saling bersedia menerima dalam perbedaan itu.
Masyarakat yang berada membantu saudaranya yang kurang mampu, sehingga dengan
begitu rasa saling memiliki akan nampak. Namun, sayang itu hanya ilusi yang
tidak akan terjadi jikalau masyarakat Binongko masih tetap saja mempertahankan
tradisi ego itu.
Selama
permasalahan itu belum terselesaikan,
maka selama itu pula Binonongko, tetap akan di juluki Pulau Nusakambangan di
Wakatobi.
Jadi,
penulis mengajak seluruh elemen masyarakat di Indonesia, khususnya masyarakat
Binongko marilah kita bersama-sama, bahu membahu dalam menyelesaikan berbagai
masalah di Binongko. Apalagi kita sebagai masyarakat yang berilmu harus ada
manfaatnya dan memberikan sumbangsih berupa ide-idenya. Kalau kita berdiam diri
terus, maka selamanya Binongko akan tetap seperti itu. Siapa lagi yang akan
membangun Binongko, kalau bukan dari masyarakat Binongko sendiri, bukan
masyarakat Wangi-Wangi, Kaladupa, ataupun Tomia. Mari kita mulai dari hal-hal
yang kecil. Jangan menunggu sampai kita berilmu banyak, tapi berikanlah apa
yang kita miliki saat ini untuk masyarakat selagi itu baik dan bermanfaat.
Sehingga julukan Binongko sebagai Pulau Nusakambangan di Wakatobi hilang.
Binongko Bersatu..!!!